Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Mei 2008

Ambilah Aqidahmu dari Al-Qur'an dan As-sunnah(6) : Hukum Dalam Islam, Perundangan yang bertentangan dengan Islam, Hukum menggantungkan Jimat dan Tawas

Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu.

Soal 1 : Dengan hukum apa kaum muslimin wajib memutuskan perkara?

Jawab : Mereka wajib berhukum dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Dan siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang kafir. (QS. Al Maidah: 44).

Dalil dari sunnah:
(( اللهُ هُوَ الْحَكَمُ وَإِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ))
Allah adalah penentu hukum, dan kepada-Nya tempat kembali. (HR. Abu Dawud, Hadits hasan).

Soal 2 : Apa hukumnya undang-undang yang bertentangan dengan Islam?

Jawab: Hukum mengamalkannya kafir, jika ia membolehkannya.
Dalil dari AlQur'an:
Dan hukumilah di antara mereka dengan apa yang diturunkan oleh Allah. (QS. Al Maidah: 49).

Dalil dari sunnah:
(( وَمَالَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوْا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ إِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ ))
Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak menghukumi dengan kitab Allah dan memilih dari apa yang Allah turunkan kecuali Allah jadikan permusuhan kuat di antara mereka. (HR Ibnu Majah).

Soal 3 : Apakah boleh bersumpah dengan selain Allah?

Jawab : Tidak boleh bersumpah kecuali dengan Nama Allah.
Dalil dari Al Qur'an:
Ya pasti, dan Demi Tuhan-ku sungguh kalian pasti dibangkitkan. (QS. At Taghabun: 7).

Dalil dari sunnah:
(( مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ ))
Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah sungguh telah musyrik. [HR. Ahmad, Hadits shahih]

Soal 4 : Apakah boleh menggantungkan kalung pengaman dan ajimat?

Jawab : Tidak boleh menggantungkannya, karena termasuk syirik.
Dalil dari Al Qur'an:
Dan jika menimpamu suatu bahaya, maka tidak ada yang bisa menghilangkan kecuali Dia. (QS. Al An'am: 17).

Dalil dari sunnah:
(( مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فًقًدْ أَشْرَكَ ))
Barang siapa nmenggantungkan ajimat maka ia telah musyrik. (HR. Ahmad, hadist shahih).

Soal 5: dengan apa kita bertawassul kepada Allah?

Jawab : Kita bertawassul kepada Allah dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat- Nya dan amal shaleh.
Dalil dari AlQur'an:
Milik Allah nama-nama yang baik maka berdoalah dengannya. (QS. Al A'raaf: 180).

Dalil dari sunnah:
(( أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ))
Aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang dia milik-Mu, Engkau beri nama dengannya Dzat-Mu. (HR. Ahmad, hadist shahih).

Soal 6: Apakah doa memerlukan perantara makhluk?

Jawab : Doa tidak memerlukan perantara.
Dalil dari Al-Qur'an:
Jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku sesungguhnya Aku dekat, aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku. (QS. Al Baqarah: 186).

Dalil dari sunnah:
(( إِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا وَهُوَ مَعَكُمْ ))
Sesungguhnya engkau berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar Dekat, dan Dia bersamamu. (HR. Muslim).

Soal 7 : Apa perantaraan yang diperankan rasul?

Jawab : Perantaraan yang diperankan Rasul adalah menyampaikan wahyu.
Dalil dari AlQur'an:
Wahai Rasul sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. (QS. Al Maidah: 67).

Dalil dari sunnah:
(( اللَّهُمَّ اشْهَدْ ))
Ya Allah saksikanlah. [ini jawab beliau atas ucapan sahabat yang berkata kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan amanah, dan menasehati]

Soal 8 : Dari siapa kita mohon syafa'at nabi ?

Jawab : Kita mohon syafaat Nabi dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Dalil dari Al-Qur'an:
Katakanlah hanya milik Allah lah seluruh syafa'at. (QS. Az Zumar: 44).

Dalil dari sunnah:
(( اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ ))
Ya Allah jadikanlah dia [Rasul] pemberi syafa'at untukku. (HR. Tirmidzi, ia berkata," hadist ini hasan").

Soal 9 : Bagiamana kita mencintai Allah dan Rasul Shallallahu alaihi wa sallam?

Jawab : Cinta dengan bentuk ketaatan dan mengikuti perintah.
Dalil dari AlQur'an:
Katakanlah (hai Muhammad): "jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kalian". (QS. Ali Imran: 31).

Dalil dari sunnah:
(( لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ ))
Tidaklah beriman seorang di antara kalian sehingga aku lebih ia cintai dari pada cintanya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. Bukhari).

Soal 10 : Apakah boleh berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah?

Jawab : Kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam memuji Rasul.
Dalil dari AlQur'an:
Katakanlah: "tiada lain saya hanya seorang manusia seperti kalian, telah diwahyukan kepadaku". (QS. Al Kahfi: 110).

Dalil dari sunnah:
(( لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ ))
Jangan kalian lebih-lebihkan saya sebagaimana umat Nasrani Melebih-lebihkan Isa anak Maryam tiada lain saya seorang hamba, maka katakanlah, "hamba Allah dan Rasul-Nya". (HR. Bukhari).

Insya Allah bersambung.. ..
Sumber: Soal Jawab Aqidah.Penerbit:Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
.

Rabu, 07 Mei 2008

Ambilah Aqidahmu dari Al-Qur'an dan As-sunnah(5) : Hukum Thawaf di kuburan, Sholat didepan kuburan, Sihir dan Hal-hal yang ghaib.

Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu.

Soal 1: Apakah boleh thawaf di kuburan?

Jawab: Tidak boleh thawaf kecuali di Ka'bah.

Dalil dari Al-Qur'an:

Dan thawaflah kalian di Rumah Atiq [Ka'bah]. (QS. Al Hajj: 29).

Dalil dari sunnah:

((مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ))

Barang siapa yang thawaf di Baitullah tujuh kali, lalu shalat dua raka'at, adalah seperti memerdekakan budak. (HR. Ibnu Majah, shahih).



Soal 2: Apakah boleh shalat sementara kuburan ada di depan kita?

Jawab : Tidak boleh shalat ke arah kuburan.

Dalil dari Al-Qur'an:

[Maka arahkan wajahmu ke Al-Masjidil Haram yaitu menghadaplah ke Ka'bah. (QS. Al Baqarah: 144).

Dalil dari sunnah:

(( لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقَبْرِ وَلاَ تُصَلُّوْا إِلَيْهَا ))

Janganlah kalian duduk diatas kuburan dan janganlah shalat ke arahnya. (HR.Muslim).



Soal 3: Apa hukum melakukan sihir?

Jawab : Hukum melakukan sihir adalah kafir.

Dalil dari Al-Qur'an:

Akan tetapi setan-setan itu kafir, mereka mengajari manusia sihir. (QS. Al Baqarah: 102).

Dalil dari sunnah:

(( اجْتَنِبُوْا المُوْبِقَاتِ : الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ ... ))

Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan : syirik, sihir… (HR. Bukhari).



Soal 4: Apakah kita boleh mempercayai dukun dan peramal?

Jawab: Kita tidak boleh mempercayai keduanya dalam memberitakan masalah ghaib.

Dalil dari Al-Qur'an:

Katakanlah: "tidak ada yang di langit maupun di bumi yang mengetahui tentang ghaib kecuali Allah dan mereka tidak sadar kapan dibangkitkan". (QS. An Naml: 65).

Dalil dari sunnah:

(( مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ )

Barang siapa yang mendatangi peramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang dikatakannya sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR. Ahmad, hadist shahih).



Soal 5 : Apakah ada yang mengetahui hal ghaib?

Jawab : Tidak ada satupun yang mengetahui hal ghaib kecuali Allah.

Dalil dari Al-Qur'an:

Dan di sisi-Nya kunci-kunci ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. (QS. Al An'am: 59).

Dalil dari sunnah:

(( لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ ))

Tidak ada yang mengetahui hal ghaib kecuali Dia [HR. Thabrani, Hadits hasan].

Insya Allah bersambung.. ..

Sumber: Soal Jawab Aqidah.
Penerbit:Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah.

Ambilah Aqidahmu dari Al-Qur'an dan As-sunnah(4) : Hukum berdo'a, Nadzar, menyembelih Selain Kepada Allah.

Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu.

Soal 1 : Apakah doa itu ibadah kepada Allah?

Jawab : Ya, doa adalah ibadah kepada Allah ta'ala

Dalil dari Al-Qur'an:

Rabbmu berfirman: "berdoalah kepada-Ku pasti Aku kabulkan untuk kalian". (QS. Ghafir: 60).


Dalil dari sunnah :

(( الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ))

Doa itu ibadah . (HR. Tirmidzi, ia berkata, " hadist ini shahih).


Soal 2 : Apakah orang mati mendengar doa?

Jawab : Orang-orang mati tidak mendengar doa.

Dalil dari Al-Qur'an:

Sesungguhnya engkau tidak memperdengarkan orang mati. (QS. An Naml: 80).

Dan engkau tidak memperdengarkan orang yang ada dalam kuburan. (QS. Fathir: 22).


Dalil dari sunnah:

(( إِنَّ لِلَّهِ مَلاَئِكَةٌ سُيَّاحِيْنَ فِيْ الأَرْضِ يُبَلِّغُوْنَ عَنْ أُمَّتِيْ السَّلاَمَ ))

Sesungguhnya Allah memiliki Malaikat-Malaikat yang terbang ke berbagai tempat di bumi menyampaikan kepadaku salam dari umatku. (HR. Ahmad, hadist shahih).


Soal 3 : Apakah kita boleh minta bantuan kepada orang mati?

Jawab: Kita tidak boleh meminta bantuan kepada mereka, bahkan kita istighatsah hanya kepada Allah.

Dalil dari Al-Qur'an:

Ingatlah ketika kalian istighatsah kepada Rabb kalian maka Dia mengabulkan [permintaan] kalian. (QS. Al Anfal: 9).


Dalil dari sunnah:

(( كَانَ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ أَوْ غَمٌّ قَالَ: يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ ))

Adalah Nabi jika terkena kesusahan dan kesedihan beliau berdoa: wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang Mengurusi Makhluk-Nya dengan rahmat-Mu aku beristighatsah.


Soal 4: Apakah boleh minta pertolongan kepada selain Allah?

Jawab: Tidak boleh meminta pertolongan kecuali kepada Allah.

Dalil dari AlQur'an:

Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan. (QS. Al Fatihah: 5).


Dalil dari sunnah:

(( إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ ))

Bila engkau berdoa, berdoalah hanya kepada Allah dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah hanya kepada Allah. (HR. Tirmidzi, ia berkata, "Hadist ini hasan shahih").


Soal 5 : Apakah kita boleh minta bantuan kepada yang hidup dan hadir?

Jawab : Ya, apa yang mereka mampu melakukan.

Dalil dari AlQur'an:

Tolong-menolonglah dalam masalah kebajikan dan taqwa dan jangan tolong-menolong dalam masalah dosa dan permusuhan. (QS. Al Maidah: 2).


Dalil dari sunnah:

(( وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا دَامَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ ))

Allah membantu seorang hamba, selama hamba tadi membantu saudaranya.


Soal 6: Apakah boleh bernadzar untuk selain Allah?

Jawab : Tidak boleh bernadzar kecuali untuk Allah.

Dalil dari Al Qur'an:

"Wahai Rabbku, sungguh aku bernadzar untuk-Mu apa yang ada dalam perutku sebagai orang yang bebas [untuk berkhidmah di Masjid Al-Aqsha] maka terimalah dariku". (QS. Ali Imran: 35).


Dalil dari sunnah:

(( مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيْعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ ))

Siapa yang bernadzar untuk taat kepada Allah hendaklah ia mentaatinya [melaksanakan nadzarnya] barang siapa bernadzar untuk maksiat, janganlah ia mendurhakai- Nya [dengan tidak melaksanakan nadzarnya]. (HR. Bukhari).

Soal 7: Apakah boleh menyembelih untuk selain Allah?

Jawab : Tidak boleh, karena hal itu termasuk syirik besar.

Dalil dari Al Qur'an:

Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah [untuk-Nya saja]. (QS. Al Kautsar: 2).

Dalil dari sunnah:

(( لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ ))

Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. (HR. Muslim).


Insya Allah bersambung.. ..

Sumber: Soal Jawab Aqidah.
Penerbit:Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah.

Senin, 05 Mei 2008

Ambilah Aqidahmu dari Al-Qur'an dan As-sunnah(3) : Makna Sirik dan Bahayanya.

Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu.

Soal 1: Apa dosa yang paling besar?

Jawab : Dosa yang paling besar adalah sirik menyekutukan Allah?

Dalil dari Al-Qur'an:
Wahai anakku janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu kezhaliman yang besar. (QS. Luqman: 13).

Dalil dari sunnah:

( سُئِلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَم؟ قَالَ: أَنْ تَدْعُوَ لِلَّهِ نِدّاً وَهُوَ خَلَقَكَ )
Nabi shalalahu alaihi wassalam ditanya tentang dosa apa yang paling besar. Beliau bersabda: engkau menyeru sekutu Allah sedang Dia telah menciptakan kamu. (HR. Muslim).

Soal 2: Apa syirik besar itu?

Jawab: Yaitu menujukan ibadah untuk selain Allah seperti doa.

Dalil dari Al-Qur'an:

Katakanlah: "tiada lain saya menyeru [berdoa] kepada Rabbku dan tidak menyekutukan- Nya dengan sesuatupun". (QS. Al Jinn: 20).

Dalil dari sunnah:

( أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الإِشْرَاكُ بِاللهِ )
Dosa yang paling besar dari dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah. (HR. Bukhari).

Soal 3 : Apa bahaya syirik besar?

Jawab : Syirik besar menyebabkan pelakunya kekal di neraka?

Dalil dari Al-Qur'an:
Sesungguhnya siapa yang menyekutukan Allah maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga dan tempat tinggalnya di neraka. (QS. Al Maidah:72).

Dalil dari sunnah:

( مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئاً دَخَلَ النَّارَ )
Barangsiapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu pasti masuk neraka. (HR. Muslim).

Soal 4: apakah amalan bermanfaat jika dibarengi kesyirikan?

Jawab: Amal yang dibarengi dengan syirik tidak bermanfaat.

Dalil dari Al-Qur'an:

Kalau mereka menyekutukan sungguh gugurlah apa yang mereka amalkan. (QS. Al An'am: 88).
Dalil dari sunnah:

((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ))
Barangsiapa yang beramal suatu amalan ia menyekutukan di dalamnya selain Aku, Aku tinggalkan dia dan sekutunya. (HR. Muslim).

Soal 5: Apakah kesyirikan itu terjadi di kalangan kaum muslimin.

Jawab : Ya ! banyak dan amat disayangkan.

Dalil dari Al-Qur'an:

Dan tidaklah beriman kepada Allah kebanyakan mereka kecuali mereka berbuat syirik. (QS. Yusuf: 106).

Dalil dari sunnah :

(( لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِيْ بِالْمُشْرِكِيْنَ وَحَتَّى تُعْبَدَ الأَوْثَانُ ))] صحيح رواه الترمذي
Tidaklah terjadi kiamat sehingga beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan musyrikin dan sehingga berhala disembah. (HR. Tirmidzi, shahih).

Soal 6 : Apa hukum berdoa kepada selain Allah, seperti para wali?

Jawab : Berdoa kepada mereka suatu kesyirikan memasukkan ke neraka.

Dalil dari Al-Qur'an:

Maka jangan engkau seru bersama Allah Ilah yang lain maka engkau termasuk orang yang disiksa. (QS. Asy Syu'ara': 213).

Dalil dari sunnah:

(( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدّاً دَخَلَ النَّارَ ))
Barang siapa mati dan dia menyeru selain Allah sebagai tandingan pastilah ia masuk neraka. (HR. Bukhari).

Insya Allah bersambung
Sumber: Soal Jawab Aqidah.
Penerbit:Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah.

Ambillah Aqidahmu dari Al-Qur'an dan As-Sunnah (2): Macam-Macam Tauhid dan Faedahnya

Oleh: Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu

Soal 1:
Apa maksud Allah mengutus para Rasul?

Jawab 1:
Allah mengutus para Rasul supaya mereka berda'wah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi syirik, sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Artinya: "Dan sungguh telah kami utus kepada setiap umat itu seorang rasul (agar menyeru kepada umat-nya): Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut." (Terj. An-Nahl: 36)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
ألأنبياء إخوة …… ودينهم واحد {حديث صحيح متفق عليه
Artinya: "Para Nabi itu bersaudara dan dien mereka satu." (Hadits shohih riwayat Bukhori)

Soal 2:
Apa yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah?

Jawab 2:
Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam seluruh perbuatan-Nya seperti menciptakan, memelihara dan sebagainya. Allah berfirman:

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: "Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam." (Terj. Al-Fatihah: 2)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

أنت رب اسموات ولأرض
Artinya: "Engkaulah Rabb langit dan bumi." (Hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim)

Soal 3:
Apa yang dimaksud Tauhid Uluhiyah?

Jawab 3:
Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah dalam beribadah seperti berdo'a, menyembelih kurban, bernadzar dan sebagainya. Allah berfirman:

وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
Artinya: "Dan Ilahmu itu adalah ilah yang satu, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang." (Terj. Al-Baqarah: 163)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

فليكن أول ماتدعوهم إليه شهادة أن لاإله إلا الله
Artinya: "Maka hendaklah yang pertama kamu serukan kepada mereka adalah persaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah." (Hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat Bukhari:

إلي أن يواحدوا الله
Artinya: "Sampai mereka mentauhidkan Allah."

Soal 4:
Apa yang dimaksud dengan Tauhid Asma' wa Shifatillah?

Jawab 4:
Tauhid Asma' dan Sifat adalah menetapkan semua sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sebagaimana Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam mensifati-Nya dalam hadits shohih sesuai dengan hakekatnya tanpa ta'wil, tafwidh, tamtsil, dan tanpa ta'thil (*), seperti istiwa', turun (ke langit dunia), dan lain-lain yang menuju pada kesempurnaan- Nya.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Artinya: "Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia, sedang Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Terj. Asy-Syura: 11)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

ينزل الله في كل ليلة في سماء الدنيا
Artinya: "Allah turun ke langit dunia pada setiap malam." (Hadits shohih riwayat Muslim)

Maksudnya, turunnya Allah itu sesuai dengan kemuliaan-Nya, tidak menyerupai turunnya salah satu dari makhluk-Nya.

(*)

1. Ta'wil di sini yang dimaksud sesungguhnya adalah tahriif. Ahlul bid'ah sengaja menyebut diri mereka ahli ta'wil untuk melariskan kebid'ahan mereka. Padahal pada hakekatnya semua itu adalah tahriif. Arti tahriif adalah merubah lafazh (teks) dan makna (pengertian) nama-nama atau sifat-sifat Allah, seperti pernyataan golongan Jahmiyah (pengikut Jahm bin Sofwan) mengenai Istawa yang mereka ubah menjadi Istawla (menguasai), dan sebagian ahli bid'ah lain yang menyatakan arti al-ghadhab (marah) bagi Allah adalah kehendak untuk menyiksa, dan makna ar-rahmah adalah kehendak memberi nikmat. Semua ini adalah tahriif. Yang pertama tahriif lafzhi (tekstual) dan yang berikutnya adalah tahriif secara makna.

2. Tafwidh artinya menyandarkan makna atau interpretasi dari kalimat-kalimat yang menunjukkan nama dan sifat Allah Ta'ala kepada Allah. Misalnya, kalimat يذ الله (tangan Allah), yang mengetahui maknanya adalah Allah. Pernyataan ini adalah ucapan ahlul bid'ah yang paling buruk. Tidak ada satupun salafus shaleh yang berbuat demikian. Bahkan seperti yang ditegaskan oleh Imam Malik ketika ditanya, bagaimana istiwa' itu? Beliau menjawab, istiwa' sudah kita ketahui maknanya, al-kaifu (bagaimana hakekatnya) tidak dikenal, beriman bahwa Allah istiwa' (bersemayam) di atas 'Arsy hukumnya wajib. Mempertanyakan bagaimana (hakekat bentuknya) adalah bid'ah.

3. Tamtsil artinya menyerupakan atau menyamakan. Maksudnya menetapkan adanya sifat-sifat Allah dan menyatakan sifa-sifat itu sama dengan sifat makhluk-Nya. Sedangkan prinsip Ahlus Sunnah dalam menyatakan bahwa Zat Allah tidak sama seperti zat kita atau mirip zat kita dan seterusnya. Begitupula dengan sifat-Nya. Ahlus Sunnah tidak mengatakan bahwa sifat Allah seperti sifat yang ada pada kita. Kita tidak akan mengatakan tangan-Nya seperti tangan kita, kaki-Nya seperti kaki kita dan seterusnya. Namun wajib atas setiap mu'min untuk tetap berpedoman dengan firman Allah:

ليس كمثله شي ء
Artinya: "Tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya." (Terj. Asy-Syura: 11)

Dan:

هل تعلم له سميا
Artinya: "Adakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?" (Terj. Maryam: 65)

Adapun maksud kedua ayat ini adalah bahwasanya tidak ada satupun yang menyerupai dan menyamai-Nya.

4. Ta'thil artinya meniadakan dan menghapus atau mengingkari semua sifat dari Allah. Jahmiyah dan orang-orang yang mengikutinya melakukan hal ini. Karena itulah mereka dinamakan juga Mu'aththilah (pelaku ta'thil). Pendapat mereka ini sangat jelas kebaitlannya. Tidak mungkin di dunia ini ada satu zat yang tidak mempunyai sifat. Al-Qur'an dan As-Sunnah menyebutkan adanya sifat-sifat Allah itu dan sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

5. Kami tambahkan di sini satu prinsip lagi yang belum disebutkan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu yaitu At-Takyiif yang artinya mempertanyakan 'bagaimana bentuk hakekat' sifat Allah yang sesungguhnya. Maka diantara prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah sifat ini adalah tidak mempertanyakan: Bagaimana istawa' Allah, bagaimana tangan-Nya, bagaimana wajah-Nya? Dan seterusnya. Karena membicarakan sifat itu sama halnya dengan membicarakan zat. Sehingga, sebagaimana Allah mempunyai Zat yang tidak kita ketahui hakekat bentuknya, maka demikian pula sifat-sifat- Nya, kita tidak mengetahui bagaimana hakekat dan bentuk atau wujud sifat itu sesungguhnya. Dan juga karena tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali Allah, maka semua itu harus diiringi pula dengan keimanan kita terhadap hakekat maknanya. (Maksudnya, arti kata dari sifat itu kita ketahui tapi hakekat bentuk atau wujudnya seperti apa kita tidak tahu, wallahu a'lam -ed).

Soal 5:
Dimana Allah?

Jawab 5:
Allah itu tinggi di atas 'Arsy di atas langit. Firman Allah:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Artinya: "Ar-Rahman (yang Maha Pengasih) yang tinggi di atas 'Arsy." (Terj. Thaaha: 5)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إن الله كتبا …… فهو عنده فوق العرش
Artinya: "Sesungguhnya Allah telah menuliskan takdir, dan kitab catatan takdir itu ada di sisi-Nya di atas 'Arsy." (Hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim)

Soal 6:
Apakah Allah bersama kita?

Jawab 6:
(Ya). Allah bersama kita dengan pendengaran- Nya, penglihatan- Nya dan ilmu-Nya (**), seperti firman Allah:

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
Artinya: "Janganlah kamu berdua takut, karena sesungguhnya Aku bersama kamu berdua (Musa dan Harun) sedangkan aku mendengar dan melihat." (Terj. Thaha: 46)

Dan sabda Rasulullah:

إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم )أي بعلمه(
Artinya: "Sesungguhnya kalian berdo'a kepada yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia senantiasa bersama kalian (yakni, dengan ilmu-Nya)." (Hadits riwayat Muslim)

(**)

Maksudnya di sini, Allah mendengar semua pembicaraan (rahasia maupun terang-terangan) , melihat dan mengetahui semua tindak tanduk hamba-hamba- Nya, wallahu a'lam.

Soal 7:
Apa faedah tauhid?

Jawab 7:
Faedah tauhid adalah untuk memperoleh keamanan dan keselamatan dari siksa di akhirat, mendapatkan hidayah (petunjuk) Allah di dunia dan menutup atau menghapus dosa-dosa.
Firman Allah:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Artinya: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Terj. Al-An'am: 82)
"Kezaliman" yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesyirikan. (***)

(***)

Sebagaimana disebutkan dalam shahih dari Ibnu Mas'ud ketika dibacakan ayat ini, mereka mengadu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, siapa dari mereka yang selamat dari kezhaliman? Tapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:

ليس كما تقولون ، ألم تسمعوا قول لقمان

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

حق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيأ
Artinya: "Hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya." (Hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim)

-bersambung insya Allah-

Ambillah Aqidahmu dari Al-Qur'an dan As-Sunnah (1): Hak Allah atas Hambanya

Oleh: Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu

Muqoddimah
بسم ا لله الر حمن ا لر حيم

Segala puji hanya bagi Allah 'azza wa jalla tempat memuji, minta pertolongan dan mohon ampun. Kita berlindung dari kejahatan hawa nafsu dan kejelekan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Tulisan yang ada di tangan pembaca ini saya susun dalam bentuk tanya jawab yang didasari dengan dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits dengan harapan akan memantapkan pembaca dalam memperoleh jawaban yang benar dalam 'aqidah, sebab 'Aqidah Tauhid merupakan dasar kebahagiaan menusia di dunia maupun di akhirat.

Saya memohon kepada Allah agar risalah ini bermanfaat kaum muslimin menjadikannya amalan yang ikhlas karena Allah.
Muhammad bin Jamil Zainu

Bab 1: Hak Allah Atas Hamba-Nya

Soal 1:
Mengapa dan untuk apa Allah menciptakan kita?

Jawab 1:
Allah menciptakan kita agar kita beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Berdasarkan firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Terj. Adz-Dzariyat: 56)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
حق الله على العباد أن ي عبدوه ولا يشركوا به شيئا
Artinya: "Hak Allah atas hamba-Nya adalah supaya hamba itu beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya." (Hadits shohih riwayat Bukhari dan Muslim).

Soal 2:
Apakah ibadah itu?

Jawab 2:
Ibadah adalah kata atau istilah yang meliputi semua perkara yang dicintai oleh Allah, baik perkataan maupun perbuatan (lahir dan batin), seperti berdo'a, shalat, menyembelih hewan (kurban) dan sebagainya. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: "Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Pencipta alam semesta ini." (Al-An'am: 162)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
و ما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افتر ضته عليه
Artinya: "Tidaklah mendekatkan diri hamba-Ku kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepada-Nya." (Hadits Qudsi riwayat Bukhari)

Soal 3:
Bagaimana kita beribadah kepada Allah ?

Jawab 3:
Beribadah kepada Allah adalah sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam dan janganlah kalian rusak amalan kalian!" (Terj. Muhammad: 33)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
Artinya: "Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintah dari kami, maka tertolak." (Hadits shohih riwayat Muslim).

Soal 4:
Haruskah kita beribadah kepada Allah dengan rasa takut dan harap?

Jawab 4:
Ya, demikianlah kita beribadah kepada-Nya sebagaimana Allah mensifati orang-orang mukmin:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً
Artinya: "Mereka berdo'a kepada Allah dengan rasa takut dan harap." (Terj. As-Sajdah: 16)

Dan sabda Rasulullah:
أسأل الله الجنة و أعوذ به من النار
Artinya: "Aku memohon surga kepada Allah dan aku berlindung kepada-Nya dari neraka." (Hadits shohih riwayat Abu Dawud).

Soal 5:
Apa yang dimaksud ihsan dalam beribadah?

Jawab 5:
Al-Ihsan adalah meyakini bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh Allah dalam beribadah. Allah berfirman:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِين
Artinya: "Dialah yang melihatmu ketika kami berdiri (untuk sholat) dan (melihat pula) perubahan gerak-gerik badanmu diantara orang-orang yang sujud." (Terj. Asy-Syu'ara: 218-219)

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
ألإحسان أن تعبد الله مأنك تراه فان لم تكن تراه فانه يراك
Artinya: "Ihsan itu adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan jika kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (Hadits shohih riwayat Muslim)

-bersambung insya Allah-

Minggu, 04 Mei 2008

alghuroba'

  • Rasulullah bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba') ."(hadits shahih riwayat Muslim
  • "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba') . (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka."(hadits shahih riwayat Ahmad)
  • "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba') . Yaitu mereka yang mengadakan perbaikan (ishlah) ketika manusia rusak."(hadits shahih riwayat Abu Amr Ad Dani dan Al Ajurry)
  • Dalam riwayat yang lain (Al Ghuroba) disebutkan:"Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku (Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) sesudah dirusak oleh manusia." (HR. At-Tirmidzi no. 2630, beliau berkata, "Hadits ini hasan shahih." Dari 'Amr bin 'Auf )

Jumat, 22 Februari 2008

Menjaga Anak dari Bahaya ‘Ain

Muslimah.or.id 14 March, 2007


Penulis: Ummu Hafidz

Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.


Kenikmatan adalah hal yang didambakan setiap orang. Dan setiap kenikmatan juga dapat sekaligus menjadi ujian bagi seseorang. Salah satu kenikmatan yang dikaruniakan oleh Allah bagi sepasang insan adalah hadirnya sang buah hati dalam kehidupan. Ketika telah lahir, maka fisiknya yang lucu mengundang orang untuk memandang, memanjakan, menyentuhnya. Dan ketika tumbuh beranjak menjadi sosok kanak-kanak, tetap tingkah lakunya banyak mengundang perhatian orang.
Dengan sebab ini, maka perlulah kita ketahui sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap yang memiliki kenikmatan pasti ada yang iri (dengki).” (Shahihul Jami’ 223. Lihat majalah Al Furqon). Perlu menjadi perhatian bagi orang tua bahwa dalam syari’at Islam telah dijelaskan adanya bahaya ‘ain (pandangan mata) terutama bagi anak-anak. Pandangan mata yang berbahaya ini dapat muncul dengan sebab kedengkian orang yang memandang atau karena kekaguman.

Bahaya ‘Ain

Ibnu Qoyyim rohimahullah dalam kitab Tafsir Surat Muawwadzatain berkata, “Bahaya dari pandangan mata dapat terjadi ketika seseorang yang berhadapan langsung dengan sasarannya. Sasaran tukang pandang terkadang bisa mengenai sesuatu yang tidak patut didengki, seperti benda, hewan, tanaman, dan harta. Dan terkadang pandangan matanya dapat mengenai sasaran hanya dengan pandangan yang tajam dan pandangan kekaguman.” Pengaruh dari bahaya pandangan mata pun hampir mengenai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya,

وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al Qur’an dan mereka mengatakan ‘Sesungguhnya dia (Muhammad) benar-benar gila.” (Al Qalam [68]: 51)

Terdapat pula hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العين حقُُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Subhanallah, lihatlah bagaimana bahaya ’ain telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah. Dan terdapat pula contoh-contoh pengaruh buruk ’ain yang terjadi pada masa sahabat. Salah satunya adalah yang terjadi ada Sahl bin Hunaif yang terkena ’ain bukan karena rasa dengki namun karena rasa takjub. Sebagaimana dalam hadits,

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif menyebutkan bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melihat Sahl bin Hunaif mandi lalu berkatalah Amir, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.” Berkata Abu Umamamh, ”Maka terpelantinglah Sahl.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata, ”Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!” Maksudnya Nabi menyuruh Amir berwudhu kemudian diambil bekas air wudhunya untuk disiramkan kepada Sahl dan ini adalah salah satu cara pengobatan orang yang tertimpa ’ain bila diketahui pelaku ’ain tersebut (*). Maka Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air. Dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.” (HR. Malik dalam al Muwaththa 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, lihat Zaadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth 4/150 cet tahun 1424 H. Lihat majalah Al Furqon).

(*) Kata mandi yang ada di sini maksudnya adalah berwudhu sebagaimana disebutkan Imam Malik dalam kitab Al Muwattho. Wallahu a’lam.

Tanda-Tanda Terkena ’Ain

Tanda-tanda anak yang terkena ’ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.

Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ’Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, ”Pada suatu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,

ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين

“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ’ain?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).

Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab, ”Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ’ain”. Beliau berkata, ”Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

Berlindung dari Bahaya ’Ain

Sesungguhnya syari’at Islam adalah sempurna. Setiap hal yang mendatangkan bahaya bagi umatnya, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentu telah menjelaskan tentang perkara tersebut dan cara-cara mengantisipasinya. Begitu pula dengan bahaya ‘ain ini.

1. Bagi Seseorang Yang Memungkinkan Memberi Pengaruh ‘Ain

Berdasarkan hadits Abu Umamah di atas maka hendaknya seseorang yang mengagumi sesuatu dari saudaranya maka yang baik adalah mendoakan keberkahan baginya. Dan berdasarkan surat Al Kahfi ayat 39, maka ketika takjub akan sesuatu kita juga dapat mengucapkan doa:

مَا شَآءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِا للهِ

Artinya:”Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.”

2. Bagi Yang Memungkinkan Terkena ‘Ain

Sesungguhnya ’ain terjadi karena ada pandangan. Maka hendaknya orang tua tidak berlebihan dalam membanggakan anaknya karena dapat menimbulkan dengki ataupun kekaguman pada yang mendengar dan kemudian memandang sang anak. Adapun jika memang kenikmatan itu adalah sesuatu yang memang telah nampak baik dari kepintaran sang anak, fisiknya yang masya Allah, maka hendaknya orang tua mendoakan dengan doa-doa, dzikir dan ta’awudz yang telah diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah surat muawadzatain (surat Annas dan al-Falaq). Ada pula do’a yang biasa diucapkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ’ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)

Atau dengan doa,

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).

Kemudian, terdapat pula do’a yang dibacakan oleh malaikat Jibril alaihissalam ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendapat gangguan setan, yaitu:

بِسْمِ اللهِ أرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءِِ يُؤْذِيْكََ مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسِِ وَ عَيْنِ حَاسِدِِ اللهُ يَشْفِيكَ

“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ’ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”

Dan terdapat do’a-do’a lain yang dapat dibacakan kepada sang anak untuk menjaganya dari bahaya ’ain ataupun menyembuhkannya ketika telah terkena ’ain. (lihat Hisnul Muslim oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani atau Ad Du’a min Al Kitab wa As Sunnah yang telah diterjemahkan dengan judul Doa-doa Dan Ruqyah dari Al-Qur’an dan Sunnah oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Penjagaan Dari Bahaya ’Ain atau Sejenisnya

Memang bayi sangat rentan baik dari bahaya ’ain ataupun gangguan setan lainnya. Terdapat beberapa kesalahan yang biasa terjadi dalam menjaga anak dari gangguan tersebut karena tidak berdasarkan pada nash syari’at. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah:

1. Menaruh gunting di bawah bantal sang bayi dengan keyakinan itu akan menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan karena menggantungkan sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya.

2. Mengalungkan anak dengan ajimat, mantra dan sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan sang anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya ’ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam

Maraji’:
Majalah Al Furqon edisi 4 Tahun V/Dzulqo’dah 1426.
Doa-Doa dan Ruqyah dari Al Qur’an dan Sunnah. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani. Media Hidayah. 2004.
Tafsir Surah Muawwadzatain. Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Akbar. 2002.
Tumbuh di Bawah Naungan Ilahi. Syaikh Jamal Abdul Rahman. Media Hidayah. 2002.

Senin, 04 Februari 2008

Tiga Landasan Utama (Tsalatsatul Ushul)

Penulis: Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahhâb

Saudaraku
Semoga Allah sentiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda.
Ketahuilah, bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah, yaitu:
1) Ilmu, ialah mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalil.
2) Amal, ialah menerapkan ilmu ini.
3) Da’wah, ialah mengajak orang lain kepada ilmu ini.
4) Sabar, ialah tabah dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan berda’wah kepadanya.

Dalilnya, firman Allah Ta’ala: “Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal shalih dan saling nasihat menasihati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasihat-menasihati untuk (berlaku) sabar.” (Al-’Ashr: 1-3)

Imam Asy-Syafi’i[1] Rahimahullah Ta’ala, mengatakan: “Seandainya Allah hanya menurunkan surah ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka.”

Dan Imam Al-Bukhari[2] Rahimahullah Ta’ala, mengatakan: “Bab Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.”

Dalilnya firman Allah Ta’ala: “Maka ketahuilah, sesungguhnya tiada sesembahan (yang Haq) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (Muhammad: 19)
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (agama)…..[3] sebelum ucapan dan perbuatan.
Saudaraku
Semoga Allah sentiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda.
Dan ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini (beriman, beramal lalu berdakwah):
1. Bahwa Allah-lah yang menciptakan kita dan yang memberi rizki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus kepada kita seorang rasul, maka barangsiapa menaati rasul tersebut pasti akan masuk surga dan barangsiapa menyalahinya pasti akan masuk neraka.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang rasul yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang rasul, tetapi Fir’aun mendurhakai rasul itu, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat.” (Al-Muzammil: 15-16)
2. Bahwa Allah tidak rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepada-Nya, Dia dipersekutukan dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan seorang Nabi yang diutus menjadi Rasul.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang-pun di dalamnya disamping (menyembah) Allah.” (Al-Jinn: 18)
3. Bahwa barangsiapa yang mentaati Rasulullah serta mentauhidkan Allah, tidak boleh bersahabat dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu keluarga dekat.

Allah Ta’ala berfirman: “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah mantapkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya dan mereka akan dimasukkan-Nya ke dalam syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha kepada mereka dan mereka pun redha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (Al-Mujaadalah: 22).

Saudaraku
Semoga Allah membimbing Anda untuk taat kepada-Nya.
Ketahuilah, bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh umat manusia dan hanya itu sebenarnya mereka diciptakan-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzaariyaat: 56)

Ibadah dalam ayat ini, artinya: Tauhid Dan perintah Allah yang paling agung adalah Tauhid, yaitu: Memurnikan ibadah untuk Allah semata-mata. Sedang larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu: Menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” (An-Nisaa : 36)

Kemudian, apabila anda ditanya: Apakah tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh manusia? Maka hendaklah anda jawab: Yaitu mengenal Tuhan Allah ‘Azza wa Jalla, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mengenal Allah ‘Azza wa Jalla
Apabila anda ditanya: Siapakah Tuhanmu? Maka katakanlah: Tuhanku adalah Allah, yang memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikurniakan-Nya. Dan dialah sembahanku, tiada sesembahan yang haq selain Dia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Artinya: “Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam.” (Al-Faatihah: 1)
Semua yang ada selain Allah disebut Alam, dan aku (penulis) adalah salah satu dari semesta alam ini.

Selanjutnya jika anda ditanya: Melalui apa anda mengenal Tuhan? Maka hendaklah anda jawab: Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah: malam, siang, matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah: tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala mahluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

Firman Allah Ta’ala: Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya beribadah.” (Fushshilat: 37)

Dan firman-Nya: Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, sentiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam.” (Al-A’raaf: 54)

Tuhan inilah yang haq disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala: Artinya: “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Tuhan) yang telah menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 22)

Ibnu Katsir[4] Rahimahullah Ta’ala, mengatakan: “Hanya Pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak disembah dengan segala macam ibadah.” [Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim (Cairo, Maktabah Dar At-Turats, 1400H) jilid 1 hal. 57]

Dan macam-macam ibadah yang diperintah Allah itu, antara lain: Islam (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh harap), Rahbah (cemas), Khusyu’ (tunduk), Khasyyah(takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh (penyembelihan) Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Artinya: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al-Jinn: 18)

Karena itu barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka dia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala: Artinya: “Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (Al-Mu’minuun:117)

Dalil-dalil macam Ibadah:
1. Dalil Do’a
Firman Allah Ta’ala: Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina-dina.” (Ghaafir: 60)
Dan diriwayatkan dalam hadits: Artinya: “Do’a itu adalah intisari ibadah.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ Ash-Shahiih, kitab Ad-Da’waat, bab 1. “Maksud hadits ini adalah bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti mencari nafkah yang halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll, semestinya diiringi dengan permohonan redha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu Do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena sentiasa harus mengiringi gerak ibadah.”)

2. Dalil Khauf (takut)
Firman Allah Ta’ala: Artinya: “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali ‘imran: 175)

3. Dalil Raja’ (pengharapan)
Firman AllahTa’ala. Artinya: “Untuk itu barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)

4. Dalil Tawakkal (berserah diri)
Firman Allah Ta’ala: Artinya: “Dan hanya kepada Allah-lah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maa’idah: 23)
Artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang akan mencukupinya.” (Ath-Thalaaq: 3)

5. Dalil Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas) dan Khusyu’ (tunduk)
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Sesungguhnya mereka itu sentiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami.” (Al-Anbiyaa: 90)

6. Dalil Khasy-yah (takut)
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 150)

7. Dalil Inabah (kembali kepada Allah)
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu serta berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya), sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi).” (Az-Zumar: 54)

8. Dalil Isti’anah (memohon pertolongan)
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.” (Al-Faatihah: 4)
Dan diriwayatkan dalam hadits: Artinya: “Apabila kamu memohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ ‘Ash-Shahiih, kitab Shifaat Al-Qiyaamah wa Ar-Raqa’iq wa Al-Wara: bab 59 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Beirut Al-maktab Al-Islami 1403H jilid 1 hal. 293, 303, 307)

9. Dalil Isti’adzah (meminta perlindungan)
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh.” (Al-Falaq: 1)
Dan firman-Nya: Artinya: “Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Penguasa manusia.” (An-Naas: 1-2)

10. Dalil Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan)
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “(Ingatlah) tatkala kamu meminta pertolongan kepada Tuhanmu untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (Al-Anfaal: 9)

11. Dalil Dzabh (penyembelihan)
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Katakanlah. Sesungguhnya shalatkku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sesuatu-pun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya).” (Al-An’am: 162-163)
Dalil dari Sunnah: Artinya: “Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah.” (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Adhaahi, bab 8 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108, 118 dan 152)

12. Dalil Nadzar
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana.” (Al-Insaan: 7)
Mengenal Islam
Islam, ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.

Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.

I. Rukun (Tingkatan) Islam
Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada lima
1) Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa “Laa Ilaaha Ilallaah” (Tiada sesembahan yang haq selain Allah) dan Muhammad adalah Rasulullah.
2) Mendirikan shalat.
3) Mengeluarkan zakat.
4) Puasa pada bulan Ramadhan.
5) Dan Haji ke Baitullah Al-Haram.

1. Dalil Syahadat
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan sentiasa menegakkan keadilan (Juga menyatakan demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq) selain Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Aali `Imraan: 18)

“Laa Ilaaha Ilallaah” artinya: Tiada sesembahan yang haq selain Allah.
Syahadat ini mengandung dua unsur: menolak dan menetapkan “Laa Ilaaha”, adalah menolak segala sembahan selain Allah. “Illallaah” adalah menetapkan bahwa penyembahan itu hanya untuk Allah semata-mata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kekuasaan-Nya.

Tafsiran syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya aku menyatakan lepas dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakan-ku, karena sesungguhnya Dia akan menunjuki’. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka sentiasa kembali (kepada tauhid).” (Az-Zukhruf: 26-28)

Artinya: “Katakanlah (Muhammad): ‘Hai ahli kitab! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu; hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (menyerahkan diri kepada Allah).” (Ali ‘Imran: 4)

Adapun dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah.
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 128)

Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti: mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang disyariatkannya.

2. Dalil Shalat dan Zakat serta makna Tauhid
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat serta mengeluarkan Zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

3. Dalil Shiyam
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu untuk melakukan shiyam, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

4. Dalil Haji
Firman Allah Ta’ala. Artinya: “Dan hanya untuk Allah, wajib bagi manusia melakukan haji, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha tidak memerlukan semesta alam.” (Al ‘Imran: 97)

II. Tingkatan Iman
Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi ialah syahadat “LaiIlaaha Ilallaah”, sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu dari cabang Iman.

Rukun Iman ada enam, yaitu:
1) Iman kepada Allah.
2) Iman kepada para Malaikat-Nya.
3) Iman kepada Kitab-kitab-Nya.
4) Iman kepada para Rasul-Nya.
5) Iman kepada hari Akhirat, dan
6) Iman kepada Qadar, yang baik dan yang buruk. (Qadar: takdir, ketentuan Ilahi. Yaitu: Iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam semesta ini adalah diketahui, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)

Dalil keenam rukun ini, firman Allah Ta’ala. Artinya: “Berbakti (pada ALLAH) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu (dalam shalat) ke arah Timur dan Barat, tetapi berbakti (dan Iman) yang sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari Akhirat, para Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi….” (Al-Baqarah: 177)

Dan firman Allah Ta’ala. Artinya: “Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar.” (Al-Qomar: 49)

III. Tingkatan Ihsan
Ihsan, rukunnya hanya satu, yaitu:
Artinya: “Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Pengertian Ihsan tersebut adalah penggalan dari hadits Jibril, yang dituturkan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, sebagaimana akan disebutkan)

Dalilnya, firman Allah Ta’ala. Artinya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (An-Nahl: 128)

Dan firman Allah Ta’ala. Artinya: “Dan bertakwallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesunnguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Asy-Syu’araa: 217-220)

Serta firman-Nya. Artinya: “Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur’an yang kamu baca, serta pekerjaan apa saja yang kamu kerjakan, tidak lain kami adalah menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya.” (Yunus: 61)

Adapun dalilnya dari Sunnah, ialah hadits Jibril[5] yang masyhur, yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.
Artinya: “Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata: ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam,’ maka beliau menjawab: ‘Yaitu: bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana.’ Lelaki itu pun berkata: ‘Benarlah engkau.’ Kata Umar: ‘Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata: ‘Beritahulah aku tentang Iman’.Beliau menjawab: ‘Yaitu: Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk’. Ia pun berkata: ‘Benarlah engkau’.Kemudian ia berkata: ‘Beritahullah aku tentang Ihsan.’ Beliau menjawab: Yaitu: Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamumelihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu’. Ia berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab: ‘Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya.’ AKhirnya ia berkata: ‘Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu.’ Beliau menjawab: Yaitu: ‘Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi.’ Kata Umar: Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya: Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu? Aku menjawab Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda: ‘Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian.’” (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Iman, bab 1, hadits ke 1. Dan diriwayatkan juga hadits dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke 1)

Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putera Nabi Ibrahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.

Beliau berumur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi dan rasul.

Beliau diangkat sebagai nabi dengan “Iqra” yakni surah Al-’Alaq: 1-5, dan diangkat sebagai rasul dengan surah Al-Mudatstsir.

Tempat asal beliau adalah Makkah.

Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid. Dalilnya, firman Allah Ta’ala.
Artinya: “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu. Sucikalah pakaianmu. Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu menginginkan balasan yang lebih banyak. Serta bersabarlah untuk memenuhi perintah Tuhanmu.” (Al-Mudatstsir: 1-7)
Pengertian: “Sampaikanlah peringatan”, ialah menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid. “Agungkanlah Tuhanmu.” Agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata-mata. “Sucikanlah pakaianmu”, maksudnya; Sucikanlah segala amalmu dari perbuatan syirik. “Tinggalkanlah berhala-berhala itu”, artinya: Jauhkan dan bebaskan dirimu darinya serta orang-orang yang memujanya.

Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu beliau di mi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah

Hijrah, pengertiannya, ialah : Pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami.
Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat.

Dalil yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta’ala. “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri[6], kepada mereka malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini? ‘Mereka menjawab: Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini? Maka mereka itulah tempat tinggalnya neraka Jahannam dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk empat kembali. Akan tetapi orang-orang yang tertindas di antara mereka, seperti kaum lelaki dan wanita serta anak-anak yang mereka itu dalam keadaan tidak mampu menyelamatkan diri dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), maka mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah adalah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (An-Nisaa: 97-99)

Dan firman Allah Ta’ala. Artinya: “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka hanya kepada-Ku saja supaya kamu beribadah.” (Al-Ankabut: 56)
Al-Baghawi[7], Rahimahullah, berkata: “Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman.”

Adapun dalil dari Sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya: “Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 4, hal. 99. Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Al-Jihad, bab 2, dan Ad-Darimi dalam Sunan-nya, kitab As-Sam, bab 70)

Setelah Nabi Muhammad menetap di Madinah, disyariatkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat Islam lainnya.
Beliau-pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari.

Inilah agama yang beliau bawa: Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan kepada umatnya supaya di jauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diredhai Allah, sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya. Allah Ta’ala berfirman. Artinya: “Katakanlah. ‘Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.” (Al-Araaf: 158)

Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya untuk kita, firman Allah Ta’ala. “… Pada hari ini[8], telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu ni’mat-Ku serta Aku redhai Islam itu menjadiagama bagimu.” (Al-Maaidah: 3)

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah Ta’ala. Artinya: “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka-pun akan mati (pula). Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari kiamat berbantah- bantahan di hadapan Tuhanmu.” (Az-Zumar: 30-31)

Manusia sesudah mati, mereka nanti akan dibangkitkan kembali.
Dalilnya firman Allah Ta’ala. Artinya: “Berasal dari tanahlah kamu telah Kami jadikan dan kepadanya kamu Kami kembalikan serta darinya kamu akan Kami bangkitkan sekali lagi.” (Thaa-haa: 55)

Dan firman Allah Ta’ala. Artinya: “Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya (lagi) dan (pada hari Kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya.” (Nuh: 17-18)

Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan di hisab dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka, firman Allah Ta’ala. Artinya: “Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi alasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik (surga).” (An-Najm: 31)

Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia adalah kafir, firman Allah Ta’ala. Artinya: “(Kami telah mengutus) rasul-rasul menadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan, supaya tiada lagi suatu alasan bagi menusia membantah Allah sebelum (diutusnya), serta beliulah penutup para nabi.” (An-Nisaa: 165)
Artinya: “Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan: ‘Tidaklah demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah.’” (At-Taghaabun: 7)

Allah telah mengutus semua rasul sebagai penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala. Artinya: “(Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan supaya tiada lagi suatu alasan bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu …” (An-Nisaa: 165)

Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam[9], Dan rasul terkahir adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para nabi. Dalil yang menunjukkan bahwa rasul pertama adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, firman Allah Ta’ala. Artinya: “Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya ..” (An-Nisaa: 163)

Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan mereka untuk beribadat kepada Allah semata-mata dan melarang mereka beribadah kepada thagut. Allah Ta’ala berfirman. Artinya: “Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thagut itu …” (An-Nahl: 36)

Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir terhadap thagut dan hanya beriman kepada-Nya. Ibnu Al-Qayyim[10], Rahimahullah Ta’ala, telah menjelaskan pengertian thagut tersebut dengan mengatakan. Artinya: “Thagut, ialah setiap yang diperlakukan manusia secara melampui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti atau dipatuhi.”

Dan Thagut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima:
1) Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah.
2) Orang yang disembah, sedang dia sendiri rela.
3) Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.
4) Orang yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib, dan
5) Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman. Artinya: “Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 256)
Ingkar kepada semua thagut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat “Laa Ilaaha Ilallah”.

Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Artinya: “Pokok agama ini adalah Islam[11], dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah.” (Hadits Shahih riwayat Ath-Thabarani dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami Ash-Shahih, kitab Al-Imaan, bab 8)

Hanya Allah-lah Yang Mahatahu. Semoga shalawat dan salam sentiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad kepada keluarga dan para sahabatnya.
——————————————————————————–
[1] Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Al-’Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’i Al-Hasyim Al-Quraisy Al-Muthallibi (150-204H - 767-820M) Salah seorang imam Empat. Dilahirkan di Gaza (Palestina) dan meninggal di Cairo. Diantara karya ilmiyahnya Al-Umm, Ar-Risalah dan Al-Musnad.
[2] Abu ‘Abdillah Miuhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al- Bukhari (194-256H - 810-870M) Seorang Ulama ahli Hadits. Untuk mengumpulkan hadits ia telah menempuh perjalanan yang panjang, mengunjungi Khurasan, Irak, Mesir dan Syam. Kitab-kitab yang disusunnya antara lain Al-Jaami Ash-Shahih (yang lebih dikenal dengan Shahih Bukhari), At-Taarikh, Adh-Dhu’afaa, Khalq Af’aal al-Ibaad.
[3] Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-’ilm, bab.10.
[4] Abu Al-Fidaa: Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasy Ad-Dimasyqi (701-774H - 1302-1373M). Seorang ahli ilmu hadits, tafsir, fiqh dan sejarah. Diantara karyanya: Tafsir Al-Qur’aan Al-Azhim, Thabaqat Al-Fuqahaa Asy Syafiiyyun, al-Bidayah wa An-Nihayah (sejarah), Ikhtishaar ‘Uluum Al-Hadits, Syarh Shahih Al-Bukhari (belum sempat dirampungkannya).
[5] Disebut hadits Jibril, karena Jibril-lah (malaikat) yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menanyakan kepada beliau tentang, Islam, Iman dan masalah hari Kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum muslimin tentang masalah-masalah agama.
[6] Yang dimaksud dengan orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri dalam ayat ini, ialah orang-orang penduduk Makkah yang sudah masuk Islam tetapi mereka tidak mau hijrah bersama Nabi, padahal mereka mampu dan sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir supaya ikut bersama mereka pergi ke perang Badar, akhirnya ada diantara mereka yang terbunuh.
[7] Abu Muhammad Al-Husein bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’ atau Ibnu Al-Farra’. Al Baghawi (436-510H - 1044-1117M). Seorang ahli dalam bidang fiqh, hadits dan tafsir. Di antara karyanya: At-Tahdziib (fiqh), Syarh As-Sunnah (hadits), Lubaab At-Ta’wiil fi Ma’aalim At-Tanziil (tafsir).
[8] Maksudnya, adalah hari Jum’at ketika wukuf di Arafah, pada waktu Haji Wada.
[9] Selain dalil dari Al-Qur’an yang disebutkan Penulis, yang menunjukkan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama, di sana juga ada hadits shahih yang menyatakan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama yang di utus kepada penduduk bumi ini, seperti hadits riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al-Anbiya, bab 3 dan riwayat Muslim dalam Shahih-nya kitab Al-Iman, bab. 84. Adapun Nabi Adam Alaihissalam, menurut sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, Radhiyallahu anhu. Beliau adalah nabi pertama. Dan disebutkan dalam hadits ini bahwa jumlah para nabi ada 124 ribu orang, dari jumlah tersebut sebagai rasul 315 orang, dan dalam riwayat lain disebutkan 310 orang lebih. Lihat: Imam Ahmad, Al-Musnad, jilid 5, hal. 178, 179 dan 265.
[10] Abu Abdillah: Muhammad bin Abu Bakar, bin Ayyub, bin Said, Az-Zur’i,Ad-Dimasqi, terkenal dengan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah (691-751H - 1292 - 1350M). Seorang ulama yang giat dan gigih dalam mengajak umat Islam pada zamannya untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti jejak para Salaf Shalih. Mempunyai banyak karya tulis, antara lain: Madaarij As-Salikin, Zaad Al-Ma’aad, Thariiq Al-Hijratain wa Baab As-Sa’aadatain, At-Tibyaan fi Aqwaam Al-Qur’aan, Miftah Daar As-Sa’aadah.
[11] Silahkan melihat kembali pengertian Islam yang disebutkan oleh Penulis, dalam Tiga Landasan Utama bagian 3/4 (Kitab Utsuluts Tsalatsah, Muhammad bin Abdul Wahhab).